Pura Penataran Sasih dan legenda bulan jatuh

Beberapa arca peninggalan masa lalu yang masih bertahan dan diletakkan di pura.

Selain sebagai surga terakhir (the last paradise), Bali juga dikenal sebagai pulau seribu pura. Di sini, di hampir setiap sudutnya, dapat ditemukan berbagai tempat pemujaan. Penduduk Bali mayoritas beragama Hindu. Dan masyarakat berbasis Hindu memiliki pura sesuai dengan segmentasinya masing-masing.

Di setiap desa di Bali yang berbasis Hindu, minimal ada tiga pura yang disebut Khayangan Tiga. Khayangan Tiga ini di-sungsung atau diusung oleh warga desa yang bersangkutan. Selain itu, ada juga pura keluarga yang diusung oleh keluarga, mulai dari keluarga kecil, keluarga besar, atau klan tertentu.

Sementara itu, ada juga pura yang disebut Khayangan Jagad. Pura ini merupakan tempat pemujaan semua umat Hindu di Bali. Yang termasuk pura Khayangan Jagad adalah Pura Besakih dan Pura Tanah Lot.

Tapi, kali ini kita tidak akan membicarakan Pura Besakih yang merupakan pura terbesar di Bali. Bukan juga soal Pura Tanah Lot yang terletak di pantai dan kerap hadir dalam kartu-kartu pos dengan lembayungnya yang menawan. Tapi ini soal Pura Penataran Sasih.

Pura ini terletak di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar. Sekitar 40 kilometer dari Bandara Ngurah Rai. Bagi para pelancong, desa ini mungkin kurang populer. Namun bagi penggemar sejarah dan arkeolog, desa ini pasti tak asing. Di desa inilah ditemukan banyak sekali peninggalan bersejarah dari abad kedelapan hingga empat belas.

Pura Penataran Sasih berusia cukup tua ketimbang peninggalan lain. Ia ada jauh sebelum Hindu lahir di Bali. Jika diterjemahkan dengan bebas, Penataran Sasih dapat diartikan sebagai tanahnya bulan. Ia memang memiliki keterkaitan erat dengan mitos yang berkembang bersama pura ini.

Di atas pelinggih/tugu inilah ditempatkan nekara besar yang dianggap sebagai bulan.

Dahulu kala diceritakan bahwa ada dua bulan yang bersinar. Di malam hari, sinar kedua bulan itu menyamai terangnya matahari. Ini menyebabkan para bromocorah terutama pencuri sulit melakukan aksinya. Maka salah satu pencuri tersakti lalu terbang ke bulan dan mengencingi salah satunya. Bulan yang dikencingi itu kemudian redup dan lantas jatuh ke bumi. Di tempat jatuhnya bulan itu kemudian didirikan pura yang bernama Penataran Sasih. Bulan jatuh itu dapat tersimpan rapi hingga kini dan dapat disaksikan di pura tersebut.

Tapi benarkah itu sebuah bulan? Benda bulat bersinar yang berotasi mengelilingi bumi? Benda itu dipercaya sebagai bulan walau pada dasarnya ia adalah sebuah nekara. Nekara besar itu memiliki tinggi 186,5 sentimeter dengan diameter bidang pukul 160 sentimeter. Nekara merupakan genderang perunggu peninggalan kebudayaan Dongson. Kebudayaan ini berkembang di lembah Song Hong, Vietnam, dan kemudian menyebar ke wilayah Asia lainnya, termasuk yang kini disebut Indonesia pada masa sebelum masehi.

Arkeolog menafsirkan bahwa nekara perunggu tersebut dibuat sekitar dua ribu tahun yang lalu. Ini berarti sebelum Hindu masuk ke Bali. Hindu masuk ke Bali diperkirakan pada abad ke-8. Made Jati, penjaga pura yang kerap mengantarkan para turis berkeliling pura, mengatakan bahwa nekara tersebut merupakan peninggalan dari 2.200 tahun yang lalu. Ini juga dituliskan dalam brosur penjelasan yang diberikan pada tamu ketika mereka memasuki areal pura.

Pada nekara tersebut ditemukan hiasan kodok muka. Dalam budaya pertanian, kodok merupakan simbol air. Ini dikaitkan dengan fungsi nekara sebagai sarana pemujaan untuk memohon hujan. Nekara ditabuh dan suaranya menyerupai petir yang kemudian dapat menimbulkan hujan.

Namun, saat ini nekara tersebut sudah tidak difungsikan lagi. Ia hanya menempati satu bangunan tertentu. Beberapa bagiannya sudah nampak bopeng. Ketika pura tersebut menyelenggarakan odalan atau upacara rutin yang mengikuti siklus kalender bulan atau kalender Bali yang berulang setiap tujuh bulan, maka kita akan melihat banyak sesajen yang diletakkan di depan bangunan tersebut. Mereka tidak hendak memuja nekara tersebut, tetapi menggunakannya sebagai simbol.

Agama Hindu memang sangat kaya akan simbol. Simbol-simbol seperti arca digunakan untuk membantu orang berkonsentrasi dan membayangkan seperti apa Tuhan mereka. Karenanya, arca dewa dewi dibuat sangat rupawan, sementara arca raksasa dibuat menyeramkan.

Cukup banyak arca dan prasasti yang diletakkan di beberapa bangunan Pura Penataran Sasih. Arca-arca ini berasal dari periode yang beragam. Setelah kebudayaan pra Hindu berkembang di desa ini, kebudayaan Hindu kemudian menyusul dengan dinasti Warmadewa yang juga menjadikan desa ini sebagai pusat kerajaan pada abad kedelapan sampai empat belas.

Memasuki kawasan pura, kita akan tiba di areal yang disebut jaba pura atau areal luar pura. Secara bebas, jaba pura dapat diartikan sebagai halaman sebelum masuk ke dalam rumah. Di sebelah tenggara ada fragmen atau bekas bangunan yang memuat prasasti beraksara kediri kuadrat (segi empat) yang menyebutkan Parad Sang Hyang Dharma yang artinya bangunan suci.

Di jeroan pura atau dalam atau areal utama pura sebelah selatan, kita akan menemukan prasasti dari batu. Prasasti tersebut berkarakter huruf dari abad kesepuluh. Di bagian dalam ini pula terdapat beberapa bangunan yang berisi arca-arca dan prasasti kuno. Namun, beberapa bangunan lagi nampak kosong. Bangunan kosong inilah yang pada saat odalan akan menjadi penuh sesak dengan simbol-simbol dewa-dewi yang datang dari seluruh penjuru Pejeng. Belum lagi gebogan atau sesajen berupa buah-buahan yang ditata apik lalu diletakkan berderet di sepanjang bangunan tersebut.

Pura Penataran Sasih tampak dari depan. Inilah salah satu peninggalan sejarah yang masih eksis hingga kini.

Dalam satu “pekarangan” tidak hanya terdapat Pura Penataran Sasih sebagai pura induk tapi juga beberapa pura lainnya, seperti Pura Taman Sari, Pura Ratu Pasek, dan Pura Bale Agung.

Kedatangan Hindu sendiri tidak lantas menihilkan kebudayaan yang sudah berkembang di masyarakat. Ia bersinkretis. Selain menempatkan nekara dalam posisi terhormat, dalam waktu tertentu pada hari raya besar di pura ini, dipentaskan pula Tari Sanghyang Jaran. Ini merupakan tari sakral yang hanya dipertunjukkan pada saat upacara. Dalam keadaan kerasukan roh kuda (jaran), penari menari dengan mata terpejam di atas bara api yang terhampar di areal tersebut. Ia menari diiringi dengan gending sanghyang.

Tari Sanghyang merupakan peninggalan pra Hindu. Ini merupakan media berkomunikasi antara manusia dengan alam gaib. Ritual ini bertujuan untuk penolak bala. Di beberapa tempat, tarian ini baru digelar ketika terjadi wabah.

Menurut Made Jati, sudah beberapa tahun terakhir ini tari sanghyang tak pernah dipentaskan. Hal ini dikarenakan memang tidak ada yang kerauhan (kerasukan). Ini bisa jadi pertanda baik. Sebab, tidak ada sesuatu yang perlu disampaikan dari “dunia sana” atau wabah yang perlu ditanggulangi.

Pura Penataran Sasih hanya satu dari sekian banyak koleksi arkeologi di sepanjang daerah aliran sungai Pakerisan. Kawasan ini, per April 2010, ditetapkan sebagai warisan budaya oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bersama dua daerah lainnya di Bali, Jati Luwih, dan Taman Ayun.

Perihal dwiarisoma
All, just for fun.. here is the place to find news and entertainment purposes only for pleasure..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: